Privet!

selamat datang...

selamat menyantap hidangan kami.

Minggu, 26 Agustus 2012

Kepada ibu

Ibu, kemana mereka pergi? malam kini berganti penguasa, awan kemerahan dan petir berpesta di atas sana. kemana bulan dan bintang? apakah mereka mati disengat petir? Bu, aku sangat ingin menuliskan sebuah gundah pada tuhan, tapi mengapa tak pernah bisa. bahasa ketika sujudku sangat tidak elok, jadi aku hanya ingin menuliskannya. seperti sejuta kasihku untukmu, sejuta kasih yang hanya kau tahu lewat ciuman pada tangan, lewat tangis setiap hari raya tiba dan setiap melihatmu terbaring lemah,,, walaupun sebenarnya setiap langkah aku tak melepaskan sosokmu. bu, kini tuhan memberiku malam yang berbeda, tak seperti malam yang sering kuakrabi. setiap malam aku selalu mengetuk pintu rumahNya.

tuhan, bintang itu milikku jadi tolong jangan kau beri pada hujan dan petir, aku tak suka hujan di malam hari apalagi petir, sungguh tak suka.. tapi apakah aku tak boleh membenci?? aku hanya manusia... tak adakah pengecualian?? baiklah Kau boleh memberi bintangku padanya agar aku tak perlu membenci.. tapi lepaskan dulu malam dari petir-petirMu yang lain, aku takut orang mengira malam tak lagi menenangkan. aku takut orang lebih mencintai mimpi-mimpi daripada keheningan malam.
Ibu, katakan apa yang harus kulakukan? petir itu membawa bintangku dan kini awan kemerahan membungkam bulan. hari ini aku cengeng sekali, diam-diam aku menangis dan aku menikmatinya. hanya ada dua insan di dunia, insan yang baik dan buruk... petikan dari sebuah film yang menyadarkanku bahwa semua insan punya cinta. aku tak boleh menghalangi cinta itu kan bu? maka lebih baik aku yang menghalangi cintaku.

bu, malam ini kau tak sadar bahwa aku telah mencium keningmu, kau hanya mengubah sedikit posisi tidurmu. oiya bu, teh hangat yang kau buat malam ini sungguh nikmat aku masih mengecap manisnya hingga saat ini. disebelahmu ayah terlelap pula, tubuhnya yang agak tambun membuatku menyemai senyum.
aku selalu ingin mengatakan sesuatu pada ayah, bahwa genting rumah kita sepertinya sudah rapuh. terlihat begitu tua, bahkan terlihat lebih tua darimu, kau masih ayah yang gagah walau setengah abad sudah kau lewati. sehabis maghrib tadi kita berdua berdiskusi soal politik, kau begitu cemerlang soal yang satu ini dan lewat cara inilah kita menjadi dekat. genting ini sepertinya sudah payah menopang dinginnya malam, terlebih malam seperti ini, merah meriah dengan petir menghiasi sisi langit. huff.. kau sering kan berdiskusi dengan tuhan? bisakah kau sampaikan permintaanku padanya?. mungkin sebentar lagi kau terbangun, selalu dengan katamu "bangun di sepertiga malam, mintalah apapun, dan tuhan akan kabulkan".

aku tak mau turun ayah, aku mau melihat matahari terbit, tapi tuhan memanggil-manggil membuat nyaliku ciut dan turun sejenak dari tempat ternyaman ini. ayah, dulu ketika aku bertanya padamu bagaimana sebenarnya bentuk tuhan? kau hanya berkata "sesuatu yang teramat besar dan agung tak akan bisa tergambarkan nak, tuhan ada di dalam sini (menunjuk dadaku) rasakanlah dengan hatimu", aku tak mengerti dan tetap cemburu dengan teman-teman yang berangkat sekolah dengan tuhan yang dikalungkan di leher. aku iri dengan mereka yang tidak bersujud lima kali, sampai aku benar-benar mengerti satu hal. tuhanku adalah tuhan yang paling memenuhi syarat sebagai tuhan, ketika itu kelas enam sekolah dasar tapi aku sudah begitu mencintai hidup yang tuhan anugerahkan padaku.

bu, hari ini sungguh menyenangkan, aku memunyai kawan baru yang aku kenal dari seorang teman yang baik. pertemuan yang tak pernah aku rencanakan tetapi karena tuhan sayang padaku maka Tuhan meberikan pelajaran cuma-cuma tentang hidup. aku dipertemukan dengan dua orang yang membuatku berpikir bahwa hidup tidak senormal apa yang biasa aku bayangkan. kawan yang pertama memiliki pikiran yang aneh bu, bahkan lebih aneh dari pikiran-pikiranku dan yang satu lagi lucu bu, ia seperti memiliki banyak mimpi dan tak betah berlama-lama diam, kakinya selalu saja melangkah ke setiap tempat. sepertinya kita mampu menerbitkan matahari sendiri, di malam yang hanya kita miliki sendiri, aku tak akan rela menggadai malam hanya untuk hujan.

oh iya bu, menurutmu apa hidup ini adil? aku selalu ingin menjadi seorang yang sederhana. memandang hidup penuh keikhlasan sehingga semua yang datang kepadaku akan aku syukuri sebagai anugerah atau bonus. semoga aku tak salah bu, aku lelah untuk menghitung cara untuk menjadi kaya, melibas kepedulian terhadap sesama, aku malu bu... aku tak mau seperti teman-temanku yang tamak terhadap harta. bukankah tidak ada suatu kisah atau hadist pun yang mengatakan bahwa rasulullah itu kaya raya, bu? kalau aku salah maafkan aku, tetapi aku ingin seperti rasulullah yang memiliki kebahagian karena mencintai dan dicintai Allah. bu, aku tahu ibu senantiasa mendoakanku yang terbaik, begitupun yang dilakukan ayah. aku ingat bu bagaimana ayah bangga padaku, bagaimana iya menahan tangisnya karena haru, tapi aku yang tak kuat menahan air mata bu, aku menangis dihadapannya, menangis karena aku merasa ini tak sebanding dengan apa yang ayah lakukan. aku kagum pada ayah dan ibu, mengaggumi kebaikan dan keburukan serta mengaggumi cara kalian memandang persoalan dengan sangat bijak.

bu, tolong jaga bintangku supaya tetap dilangit dan terang benderang, malam ini tak akan tergadai lagi oleh hujan, aku janji bu aku akan menjaga malam dengan sebaik mungkin dengan sekuat dayaku agar orang-orang mencintai malam. agar semakin banyak orang yang mengucap syukur pada keheningan, hmm.. bu sekali lagi mohon dijaga bintangku, biarkan ia bersinar dan tersenyum. sampaikan juga pada Tuhan bahwa aku tak akan lagi menyia-nyiakan hidupku untuk hal bodoh. mencintai dengan kesederhanaan hanya itu yang aku mau, bu. semoga aku bisa.
 
foto :  bhaktiutama.com

Pada Pagi yang masih setengah jadi

Hujan disini seperti membawa sebuah kenangan, mungkin benar apa yang pernah dikatakan orang bahwa hujan selalu menghangatkan memori kita. Bau tanah, rumput, dan nyanyian katak seperti orchestra malam yang menemaniku melibas penderitaan, memang pagi baru setengah jadi dan malam baru saja terlewati, tetapi pencerahan selalu datang begitu saja tanpa terlebih dulu menyusun rencana terhadapnya. Oh,, pagi yang baru setengah jadi sudikah kau hentikan hujan ini sejenak agar mereka yang hidup dalam waspada bisa terbangun sekejap untuk memperingatkan orang tercintanya akan bahaya air bah? Sayang kau bukan Tuhan yang memiliki kemampuan itu, kita semua hanya hamba yang menjalankan tugas-tugasnya dengan cinta.

Cinta, bagiku sebuah penghargaan tertinggi yang manusia berikan terhadap manusia lain, yang menurutnya layak menyandang sesuatu yang disebut cinta. Seperti juga hari ini ketika kau mengucap cinta, kau seperti bayi mungil yang gagap menangis. Aku bukan tak mencintaimu hanya saja kau terlalu emosional mengungkapkannya, sehingga aku tak sempat menyeka air mata. Andai saja kau mengungkapnya pada waktu yang tepat, pada sebuah pertemuan singkat yang dulu pernah kau inginkan dariku. Kini semua sudah tumpah menjadi perasaan yang tak mampu lagi aku gambarkan seperti apa, aku dan kamu seperti sepasang merpati.

Kau sudah bersamaku kini, mengukir rantai cinta yang melilit dunia, menjebak milyaran orang agar jatuh kepadanya. Mengapa harus jatuh cinta? Kata yang lebih tepat digunakan sebagai jebakan. Mengapa tak saling mencintai? Seperti apa yang kita selalu lakukan. Oh.. tuhan, coba kau lihat kemesraan mereka yang hanyut pada tikungan madu, yang berelegi dengan waktu. Mereka sungguh menawan seperti kupu-kupu yang terbang membagi sari makanan pada pasangannya yang lapar. Pagi masih setengah jadi. Hujan… disini aku merasa seperti sebuah plakat nama yang belum jadi, plakat yang nanti akan menghiasi rumah terakhirku. Kau tahu kado terindah yang mampu diberikan manusia adalah plakat nama yang abadi, atau orang bodoh menyebutnya sebagai nisan. Seperti itulah aku.

Ibu, dia kini bersamaku, menggenggam sebuah bunga ditangan kanannya dan binatang pengerat di tangan kirinya. Aku selalu bingung pada hidup yang mengelilingi hidupku, selalu jatuh pada sebuah anggapan “mengapa semua selalu berakhir pada sebuah pertanyaan, Siapa aku?” hari ini kau mungkin tak melihatku menangis, mendekap perutku kencang, dan mengerang-ngerang. Tapi aku tahu disana kau merasakan sebuah kegundahan yang justru kau rindukan. Aku takut cintamu membuatku menjadi besar kepala, seperti kata seorang teman “eksistensi wanita ada pada gaya berpakaian sedangkan eksistensi pria ada pada wanita, oleh karena itu banyak wanita yang bingung ketika pria ingin menanggalkan pakaian mereka” kembali semua pertanyaan itu menjalari setiap sel otakku, melebur jadi satu dan bermuara pada pertanyaan itu lagi “siapa aku?”

Tuhan, biarkan aku menyadarkannya tentang satu hal yang tak pernah ia sadari. Ia terlalu mudah untuk mencintai. Melihat bunga bermekaran ia mencintainya, melihat anak kecil menangis ia mencintai itu, dan melihat aku tersenyum pun ia mencintaiku. Apakah aku salah? Tetapi selalu ada kesalahan agar menyibak jalan kebenaran. Apakah kau terluka? Tapi bukankan dengan mencintai berarti kau melukai dirimu sendiri? Kau mengetahui resiko mencintai sehingga kau lupa resiko dicintai. Pagi masih setengah jadi, bahkan tuhan tak pernah berjanji pagi hari ini akan penuh mengantar kita pada sang-siang berikutnya.

Hujan sudah mulai menyurutkan frekuensinya, sebentar lagi jangkrik dan katak akan menggelar pesta, melantunkan lagu , mungkin semacam lagu pemujaan terhadap Tuhan. Karena hujan selalu membawa karunia, bahkan ketika kita menutup hati untuk menerimanya. Kau terlampau jauh untuk ku dekap seperti aku terlalu jauh berdiri dari batas antara cinta dan benci. Huh.. andai saja kau tak pernah mengeluh akan hal ini, andai saja kita seperti biasa saja, hanya membagi keluh dan kesah, saling menopang dalam rapuh, dan mengingatkan ketika kita terlalu terlena. Tapi kau terlalu mudah mencintai.

Maafkan aku sayang, hujan hari ini memang tidak dibarengi dengan petir. Petir tak mau membuatmu takut lalu terbangun dari tidurmu,pagi-pagi sekali hujan ini telah menari-nari membuat sebagian orang dibalik lelap terendam oleh air mata. Tahukah kau tanpa kau mengatakan apapun, bahkan hanya kedipan matamu yang melambat ketika bertemu dengan mataku, aku sudah tahu apa itu arti mencintai. Tetapi aku tak pernah mudah untuk mencintai. Aku tak pernah membagi cintaku pada hal yang kuanggap tak penting, bahkan termasuk mencintai diriku sendiri. Hanya kamu sayang.

Hujan kini mulai deras kembali, pagi ini tak sedikit pun membawakan dingin yang biasa. Disana mungkin kau mencintai dingin, kau juga mencintai bintang, hujan, bulan, dan angin. Tetapi kau mencintai beberapa yang menghalangi kau untuk mencintai. Saat ini hujan turun, mendepak kekuasaan bintang dan bulan, menggantinya dengan awan yang kemerahan. Namun aku tahu bahwa kau akan tetap mencintai, bahkan kau tak membenci sedikitpun, bagimu selalu ada keindahan dibalik sebuah kenistaan. Tuhan selalu menciptakan segala sesuatunya dengan imbang, seperti ketika mereka percaya padaNya atau percaya hanya pada diri mereka sendiri.

Kau bilang “aku sangat cinta ketika ada orang yang mencintaiku, seperti aku juga cinta kepada orang yang menjahatiku”, aku hanya tersenyum pada titik kebingungan. Mengapa cinta memberikanmu keluasan hati? Sedang bagiku cinta tak lebih dari politik para malaikat untuk mengalahkan politik para setan yang mereka namakan sebagai benci. Ah, aku jadi tak selera melewati pagi, aku tak ingin terlampau sedih, terlampau senang, atau tak mampu merasakan keduanya?? Oh Tuhan yang mulia.. oh tidak,, tuan yang mulia.. hmm,, bukan! Sepertinya Tuhan, berikan penjelasan padanya bahwa dunia selalu ada untuknya, bahkan ketika ia tak menginginkannya lagi, supaya ia tidak mencintai kematian.

Jantungku mendadak berdebar, ditengah hujan pada pagi yang buta ini diluar rumahku seorang maling tertangkap oleh warga kampung, Ayah dan kakakku bahkan ada diantara salah satu mereka yang menangkapnya. Maling itu merintih kesakitan, aku tak tahu apa yang sebenarnya dibuat oleh warga kampung padanya, suara itu tertelan oleh melodi yang keluar dari titik air hujan, Ayah dan kakakku sudah kembali, mereka basah kuyup, muka mereka amat kesal, ternyata motor yang biasa kupakai adalah sasaran maling tadi, untungnya warga kampung berhasil menangkapnya kalau tidak mungkin di pagi yang belum setengah jadi ini aku berteman hujan kesedihan.

Aku memang sudah lama mencintai Ayah dan kakakku tapi saat ini aku sungguh-sungguh mencintai mereka, malam selalu menyediakan waktu untuk meyulapmu menjadi orang romantic bukan, hehe.. secara tak sadar aku pun mudah mencintai, tapi mengapa tidak pernah mencintai diri sendiri? Kembali berlari kepada persoalan-persoalan itu, pada poros yang sama yaitu “siapa aku?”. Kejam, aku tak pernah mencintai diri sendiri, bahkan cermin yang biasa menggambarkan wajahku pun tak sudi kupandang, karena menurutku itu hanya akan memperlihatkan dosa-dosa yang pernah kulakukan dulu. Tak seperti kau yang mencintai segala kekurangan dan kelebihanmu, aku lebih yakin bahwa keburukan akan membawa petaka-petaka. Mungkin kau sedang terlelap kini, bersama dengan boneka manis yang selalu tergolek dalam pelukmu, mungkin juga kau sedang mencintai mimpi-mimpi, atau kau sedang bernegoisasi dengan Tuhan perihal keberadaanku setelah mati nanti. Oh… aku tak pernah berani bertatapan dengan kenyataan, bahwa realitas selalu ada penciptanyanya. Pagi setengah jadi ini tak lagi bernada, katak dan jangkrik terdegradasi akibat padatnya bangunan. Hanya hening yang cukup menyejukan sehingga aku lupa bahwa dulu pernah ada katak dan jangkrik yang melantunkan lagu disini.

Mataku sudah terlampau letih, jariku sudah ingin berhenti, hanya saja otakku terus memaksa. Seandainya saja aku berada disana sekarang aku akan dengan senang hati menjaga tidurmu. Menghajar puluhan nyamuk yang tega menyentuhmu atau mengusir udara dingin yang ingin memelukmu. Tapi hanya kata-kata yang sekarang bisa menjagamu, mungkin bukan pagi ini tetapi malam ini atau pagi besok? Atau pagi setelah kau membacanya. Aku tak pernah tahu apa gunanya kata dibandingkan dengan selimut yang kau kenakan, tapi kata memang berkhasiat, aku pernah melihat seorang sepertimu menangis hanya karena membaca sebuah puisi. Itulah kekuatan kata sayang, dulu ketika aku bermaksud meminta maafmu dan kau tafsirkan bahwa aku ingin kau melupakanku, itu pun merupakan kekuatan kata, sayang.

Pagi sudah bergerak cepat, sebentar lagi panggilan akan berseru dan tirai di ujung timur dibuka. Pada saat terang itulah aku akan mencintaimu, mencintai semua cinta dan membiasakan diri untuk selalu mencintai segalanya. Aku dan kamu seperti pagi yang masih setengah jadi ini, kita saling mencintai dalam keheningan.


foto : filsafat.kompasiana.com

Bukit ilalang

gerah, hanya kata itu yang keluar dari mulutmu. sekarang kita ada di bukit dimana ilalang terhampar elok dengan beberapa bunga, kau tertidur disampingku menunjuk beberapa awan yang sedang berparodi untuk kita. tapi sekali lagi kau berkata "gerah", aku terdiam, melihatmu penuh tanya serta memerhatikan sendi-sendi tulangku yang kikuk dan kaku, menerka-nerka apa penyebab kau gerah? padahal disini sangat dingin. beberapa detik sebelumnya kita tertawa, menebak bentuk-bentuk awan dan tertawa dalam bius cahaya pagi ini. sampai kau benar-benar merasa gerah dan marah, mencibir awan yang sebelumnya kau puja, mencabuti ilalang dan mematahkan bunga-bunga disekitarnya. kau hanya berkata "gerah".

mungkin kita tak akan menemui sebuah pengalaman yang sama lagi, dimana aku merasa terlalu dingin dan kau merasa terlalu gerah. sebelumnya kita sepakat jika udara di bukit ini sangat dingin dan berjanji untuk saling mendekap dan menghangatkan, "apakah kau mau memeluk tubuku?" pertanyaan itu ku lontarkan padanya, tetapi dengan mengerang ia berkata "apa kau gila? ini terlampau gerah untuk berpelukan!" mataku membeku seperti kandas dalam kabut yang berjuntai turun. tubuhku benar-benar tak mampu digerakkan seakan semuanya membeku dan melekat pada ilalang tempat aku terbaring, sedang dia bersijengkat lari, berteriak gerah mengutuk tuhan yang menciptakan matahari terlampau besar!!, ia menanggalkan pakaiannya, berlari ke sebuah sungai kecil yang lebih mirip parit lalu berendam di dalamnya, sedang aku tak bergerak sedikitpun -aku hilang akal- namun kupaksakan tanganku yang menjalari rumput dan ilalang untuk memunguti pakaian yang telah ia tanggalkan itu dan setelahnya kupakaikan pada badanku yang mulai mengerut. hangat sejenak, tetapi bukit dimana kami berada sekarang ini terlalu dingin, dan kabut dengan cepat mengepung kami, menggantikan awan yang tadi kami nikmati itu.

parit kecil itu sudah hilang dari pandanganku, pun dengan ia yang berendam di dalamnya, tapi aku mendengar jelas suara ia mengerang "GERAH..!!! GERAH..!!!", aku kuatir akan keadaanya, bagaimana bisa ia gerah??? aku bangkitkan tubuhku yang kaku, melangkah mencari suara dan bunyi gemericik air tapi aku tak menemukan. kemudian bunga-bunga itu tertawa, menertawakan aku yang merasa dingin sambil terus mencari asal suara, dimana ia? aku takut ia mati kedinginan. semua pekat, aku meraba udara untuk membantuku berjalan, melekatkan resleting jaketku dan menyidekapkan tangan didepan dada. "Tuhan, tolong jangan bercanda di waktu seperti ini", aku mengeluh dalam hati, namun suara itu kini menjadi dua dan bersahut-sahutan, semakin keras.

mulutku yang kelu kupaksakan untuk berteriak "Ariani..!!! Ariani..!!", namun suaraku itu hanya menghempas kabut dan membuat tebing-tebing itu berteriak yang sama. aku lelah, lelah sekali. aku tahu parit itu sangat dekat jaraknya tapi kabut telah memanipulasi keadaan. jarak di dalam kabut memang tak bisa diterka, yang dekat terasa jauh dan jauh terasa dekat. "Ariani, ini bukan kabut, Ini awan, awan yang tadi kau puja! jangan takut Ariani" bias, suaraku berpencaran dan semakin pekik riuh karena tebing-tebing disekitar bukit ini berseru yang sama. kosong setelahnya, bahkan angin tak bersuara, kabut kembali ke puncak gunung bosan bermain di bukit ilalang. jarak pandangku terbuka, kulihat sekawanan burung yang jatuh hati pada bunga dan menciuminya berulang-ulang, serta kupu-kupu yang sayapnya berseruan tinggi rendah menukik-nukik.

dimana parit itu? Ariani, dimana ia? parit itu menghilang entah kemana, atau justru aku yang terlalu jauh pergi mencarinya hingga tersesat? tapi ini tempat kami berbaring, bahkan aku tak beranjak sedikitpun dari sini. aneh, mengapa bukit ini sudah tidak dingin, apa benar aku tak salah merasa? awan itu kembali hadir, bergelombang menari di langit seperti ombak yang jatuh hati pada pelaut. tapi itu awan hitam, gelap dan pekat, bahkan percik halilintar juga turun menyemarakan pesta dibukit ilalang ini. tak lama hujan turun menghapus lendir-lendir kepalsuan, ilalang pun bersorak-sorai menyambut, dan dikejauhan aku melihat sosoknya tak lebih dari seratus meter, Ariani yang berjalan membelakangiku, aku mengejarnya sembari memanggil "Ariani!!" lalu ia semakin cepat berjalan, aku mempercepat lari dan semakin keras memanggil namany, tapi ia lebih cepat lagi berjalan, tidak sekarang ia berlari.
 

di ujung bukit ilalang ini, tempat dimana aku letih menyebut namanya dalam dingin, ia melompat kedalam jurang yang ia percaya bisa menghilangkan gerahnya, dan hilang seiring terikan-teriakan gerah itu. aku berhenti kakiku lemas, tertunduk, dan jutaan ilalang memeluk tubuhku. aku terbaring ditempat ini, bahkan aku sama sekali belum beranjak sedikit pun, "bukit ilalang selalu punya sejuta cerita tentangmu Ariani" dan kau hanya tersenyum dan berkat "sekarang aku benar-benar merasa gerah". 

gerah, hanya kata itu yang keluar dari mulutmu. sekarang kita ada di bukit dimana ilalang terhampar elok dengan beberapa bunga, kau tertidur disampingku menunjuk beberapa awan yang sedang berparodi untuk kita. tapi sekali lagi kau berkata "gerah", aku terdiam, melihatmu penuh tanya serta memerhatikan sendi-sendi tulangku yang kikuk dan kaku, menerka-nerka apa penyebab kau gerah? padahal disini sangat dingin. beberapa detik sebelumnya kita tertawa, menebak bentuk-bentuk awan dan tertawa dalam bius cahaya pagi ini. sampai kau benar-benar merasa gerah dan marah, mencibir awan yang sebelumnya kau puja, mencabuti ilalang dan mematahkan bunga-bunga disekitarnya. kau hanya berkata "gerah".

mungkin kita tak akan menemui sebuah pengalaman yang sama lagi, dimana aku merasa terlalu dingin dan kau merasa terlalu gerah. sebelumnya kita sepakat jika udara di bukit ini sangat dingin dan berjanji untuk saling mendekap dan menghangatkan, "apakah kau mau memeluk tubuku?" pertanyaan itu ku lontarkan padanya, tetapi dengan mengerang ia berkata "apa kau gila? ini terlampau gerah untuk berpelukan!" mataku membeku seperti kandas dalam kabut yang berjuntai turun. tubuhku benar-benar tak mampu digerakkan seakan semuanya membeku dan melekat pada ilalang tempat aku terbaring, sedang dia bersijengkat lari, berteriak gerah mengutuk tuhan yang menciptakan matahari terlampau besar!!, ia menanggalkan pakaiannya, berlari ke sebuah sungai kecil yang lebih mirip parit lalu berendam di dalamnya, sedang aku tak bergerak sedikitpun -aku hilang akal- namun kupaksakan tanganku yang menjalari rumput dan ilalang untuk memunguti pakaian yang telah ia tanggalkan itu dan setelahnya kupakaikan pada badanku yang mulai mengerut. hangat sejenak, tetapi bukit dimana kami berada sekarang ini terlalu dingin, dan kabut dengan cepat mengepung kami, menggantikan awan yang tadi kami nikmati itu.

parit kecil itu sudah hilang dari pandanganku, pun dengan ia yang berendam di dalamnya, tapi aku mendengar jelas suara ia mengerang "GERAH..!!! GERAH..!!!", aku kuatir akan keadaanya, bagaimana bisa ia gerah??? aku bangkitkan tubuhku yang kaku, melangkah mencari suara dan bunyi gemericik air tapi aku tak menemukan. kemudian bunga-bunga itu tertawa, menertawakan aku yang merasa dingin sambil terus mencari asal suara, dimana ia? aku takut ia mati kedinginan. semua pekat, aku meraba udara untuk membantuku berjalan, melekatkan resleting jaketku dan menyidekapkan tangan didepan dada. "Tuhan, tolong jangan bercanda di waktu seperti ini", aku mengeluh dalam hati, namun suara itu kini menjadi dua dan bersahut-sahutan, semakin keras.

mulutku yang kelu kupaksakan untuk berteriak "Ariani..!!! Ariani..!!", namun suaraku itu hanya menghempas kabut dan membuat tebing-tebing itu berteriak yang sama. aku lelah, lelah sekali. aku tahu parit itu sangat dekat jaraknya tapi kabut telah memanipulasi keadaan. jarak di dalam kabut memang tak bisa diterka, yang dekat terasa jauh dan jauh terasa dekat. "Ariani, ini bukan kabut, Ini awan, awan yang tadi kau puja! jangan takut Ariani" bias, suaraku berpencaran dan semakin pekik riuh karena tebing-tebing disekitar bukit ini berseru yang sama. kosong setelahnya, bahkan angin tak bersuara, kabut kembali ke puncak gunung bosan bermain di bukit ilalang. jarak pandangku terbuka, kulihat sekawanan burung yang jatuh hati pada bunga dan menciuminya berulang-ulang, serta kupu-kupu yang sayapnya berseruan tinggi rendah menukik-nukik.

dimana parit itu? Ariani, dimana ia? parit itu menghilang entah kemana, atau justru aku yang terlalu jauh pergi mencarinya hingga tersesat? tapi ini tempat kami berbaring, bahkan aku tak beranjak sedikitpun dari sini. aneh, mengapa bukit ini sudah tidak dingin, apa benar aku tak salah merasa? awan itu kembali hadir, bergelombang menari di langit seperti ombak yang jatuh hati pada pelaut. tapi itu awan hitam, gelap dan pekat, bahkan percik halilintar juga turun menyemarakan pesta dibukit ilalang ini. tak lama hujan turun menghapus lendir-lendir kepalsuan, ilalang pun bersorak-sorai menyambut, dan dikejauhan aku melihat sosoknya tak lebih dari seratus meter, Ariani yang berjalan membelakangiku, aku mengejarnya sembari memanggil "Ariani!!" lalu ia semakin cepat berjalan, aku mempercepat lari dan semakin keras memanggil namany, tapi ia lebih cepat lagi berjalan, tidak sekarang ia berlari.

foto: draguscn.wordpress.com

si bagus dan sebuah cerita

"bu.. si bagus kenapa lagi?", aku bertanya sambil menyantap nasi telor kecap yang dibuatkannya pagi tadi, "itu, si bagus ditimpuk tetangga sebelah pakai sepatu", ibu membalas sembari mengelap kaca jendela rumah kami yang sudah penuh debu, aku kembali bertanya "kok bisa, memangnya si bagus salah apa?", ibu hanya tersenyum dan mengangkat alisnya "ndak tau, paling si nyuri ikan", hmm... aku agak panas mendengar jawaban ibu, mana mungkin si bagus mencuri sedang kami rutin memberi ia makan. kini si bagus lebih suka tidur, memang sebelumnya ia juga suka tidur tapi tidak seperti ini, matanya kuyu, kaki sebelah kanannya sedikit membengkak dan jalannya tertatih. kasihan si bagus.

si bagus adalah kucing milik kami sekeluarga, kami menyayangi bagus dengan cara masing-masing, ayah tidak pernah membelai si bagus tapi beliau suka memarahi si bagus jika tiba-tiba beliau mendapati ia tertidur di sajadah yang biasa beliau gunakan untuk sholat. lain lagi dengan mas Lik, dia sering bermain dengan si bagus, sering diam-diam dia menjahili si bagus dengan kantung plastik yang dimasukan ke kepala dan seketika si bagus akan berjalan mundur kelimpungan melepaskan plastik itu, biasanya kalau mas Lik sudah melakukan tindakan jahilnya ini kami sekeluarga terbahak-bahak.

dik win dan mama punya cara yang hampir sama menyayangi si bagus, mama menganggap si bagus adalah anaknya sendiri, sedang dik win menganggap si bagus adalah adiknya, "aku tidak punya teman lagi kalau ia dibuang, si bagus itu sudah seperti adik aku sendiri" sering dik win berkata seperti itu jika bapak sedang kesal dengan ulah si bagus dan berniat membuangnya. mama dan dik win memang sangat sayang dengan si bagus, makanya si bagus pun begitu senang dekat mereka, aku sering mendapati si bagus diam-diam masuk ke kamar mama atau dik win lalu terlelap disebelah mereka, biasanya pagi-pagi kami akan gaduh karena tertawa melihat peristiwa lucu itu.

aku memang sayang pada si bagus, tetapi kadang aku juga kesal oleh ulahnya. pernah suatu ketika si bagus mencakar dan menggigit tanganku, tidak sakit memang tapi efek kejutnya lah yang membuat aku geram, aku kesal sekali saat itu kemudian aku angkat tubuh si bagus dan menguncinya di kamar mandi, ia berteriak keras sekali sedang aku tertawa geli di depan pintu kamar mandi, memang kami sekeluarga tau si bagus tidak suka air, bahkan bila hujan turun ia cepat-cepat masuk mengumpat di bawah meja di ruang tamu kami.

pagi ini si bagus tak bergairah, memang selera makannya masih mantap seperti kemarin tetapi ia sudah melupakan selera bermainnya, kadang ia hanya tidur dan tak mau diganggu, seandainya kami belai, ia malah justru merintih sakit. kami tau hal itu karena kami sudah sangat sayang padanya. aku kesal sekali pagi ini, ingin rasanya ku ketuk pintu rumah tetanggaku itu dan bertanya apa maksudnya ia bertindak seperti itu, tapi ibu sudah mendahuluinya dengan nasihat, bahkan sebelum aku sempat mengucapkannya. beliau berkata "sudah toh le, biarkan saja. anggap saja mereka iri dengan keluarga kita yang diberi rezeki berkecukupan sampai-sampai bisa memberi makan kucing" ibu berbicara dengan sifat malaikatnya, dan biasanya ketika beliau berbicara seperti ini aku tidak akan kuasa membantah.

setelah menyantap nasi telor kecap buatan beliau, aku membelai kepala si bagus. aku katakan padanya "yang sabar ya, nanti cepat-cepat kau kubawa ke dokter", entah apa ia mengerti apa yang kuucapkan, semoga saja ia mengerti. kucing putih dengan loreng hitam abu itu mengelayutkan matanya untuk kembali tidur, aku hanya tersenyum sedih melihatnya "biarkan saja si bagus tidur, nanti ibu belikan ikan patin untuknya", ibu berkata sembari merapikan tumpukkan koran di meja ruang tamu. tak lama setelahnya, kucium tangan ibu dan bapak lalu kemudian aku pun pamit berangkat kerja.

***

waktu berlari cepat sekali, melewati himpitan sesak tugas-tugas yang kulalukan dan kini waktunya pulang, dijalan macet sekali selain karena hujan memang jalan ciputat yang biasa kulalui ini terkenal macet, satu jam setengah aku habiskan beradu kesabaran dengan ratusan kendaraan lain. aku sampai. tepat saat adzan maghrib ketika aku pulang ke rumah, lalu kulihat dik win menangis sesegukan "mas, si bagus disambit lagi" aku kesal sekali mendengarnya, apa yang mereka mau?. hatiku panas.

seusai ibadah aku ketuk pintu tetanggaku itu, sekejap ada niatan untuk membalasnya tetapi aku tahan karena melihat mata perempuan tua yang berkaca-kaca, tubuhnya yang kuyu, sedang di dalam rumah suaminya terkulai lemah, mereka hanya berdua, aku tahu anak lelakinya yang pengangguran itu jarang dirumah karena dia sibuk menghuni jalan raya, lalu perempuan itu berkata "maafkan saya jika saya punya niat untuk memakan kucing itu, tapi saya memang sudah tidak memiliki apapun untuk dimakan", aku merasa ditampar keras, tetangga yang bahkan selalu menunjukkan gengsi terhadap keluarga kami itu berkata bahwa sekarang dia tak punya apapun untuk dimakan.

tak sempat membalas pernyataan tetanggaku itu, aku kembali ke rumah, rumah kami memang hanya dibelah sebuah gang kecil. sampai di rumah aku kabari kabar itu kepada dik win, ibu, bapak serta mas Lik persis seperti apa yang dikatakannya, mereka semua terkejut mendengar kabar yang ku bawa dan tak berpikir terlalu lama kami sekeluarga lalu menyambangi rumah tetangga kami itu dengan sedikit buah tangan yang kami harap dapat membantu, tapi ketika kami memasuki rumah yang tak dikunci itu setelah salam yang kami teriakan belum juga dibalas, di dalam rumah itu kami mendapati sepasang suami istri itu terkulai di kasur, satu lengan mereka saling berpegangan, serta lengan yang lain masih kaku menggengam kuat di leher pasangannya.

kami hanya terdiam,separuh nyawa kami seperti hampir terenggut... tak lama warga kampung pun ramai memadati, polisi dan beberapa wartawan juga sibuk mencari-cari data. kami pulang dengan sebuah kegundahan, dan si bagus masih tertidur dekat rak sepatu kami. aku pun membelainya.
foto: Dokumentasi pribadi

Kenangan

aku masih melihat jejak kaki di pasir, dia tidak jauh pikirku. akan kukejar dia kemudian akan ku arahkan langkahnya kembali, tetapi kembali kemana? sejenak pikirku melambung, entahlah aku juga masih belum tahu, belum mengerti dan belum ingin mengerti. ku endus jejak kaki itu, aku yakin ini adalah wangi telapak kakinya, telapak yang biasa ia cuci dengan mawar. aku berlari dan tak sengaja dalam panik aku mengingat sebuah senyum sungging di sudut bibirmu, aku akan menemukannya dan akan membawanya kembali demi dua malaikat kami, tekadku.

angin memang enggan berhuyung sebab mentari pun sudah di sepenggal hilang. tak ada siapa-siapa hanya lambaian pohon kelapa dan air laut yang kejang menghantam. ku kejar langkah kaki itu, kutelusuri setiap langkahnya. matahari perlahan lenyap sudah, bulan mengganti kedudukannya, aku berlari karena ku tahu waktunya hanya sebentar, di ujung pulau lampu-lampu dermaga sudah berkilauan sebentar lagi ia akan pergi.

tetapi jejak kakinya berhenti disini, tak ada jejaknya lagi. mungkin air laut telah mengusap jejak kaki itu hingga serupa semula yaitu hanya seonggok pasir tanpa kenangan, tetapi mungkin juga ia bersiar bersama pesiar yang sore tadi berlabuh disini, lalu kemana jejak itu? aku singgah di tempat kali terakhir kakinya berjejak, ku pandangi jejak itu dan aku tersenyum. bahkan dengan hanya melihat jejaknya pun sudah membuat aku bahagia, untuk apa lagi ku meminta ia kembali.

ku raup pasir bekas jejaknya itu lalu kuusapkan pada seluruh wajahku, kuharap dengan begitu semua kesan dan kenangan tidak akan hilang. di penghujung dermaga aku melepas kepergian kapal terakhir sore ini sembari mengusap dadaku yang lapuk. diantara sepenggal kisah, aku hanya ingat senyumnya, senyum yang kini diwariskan kepada dua malaikat. malaikat yang kelak akan selalu mengingatkan aku terhadap arti kebahagiaan. hmm,, ia telah pergi berlayar bersama perahu yang entah akan berujung pada dermaga mana? walaupun tanpa sebuah ucapan dan pesta perpisahan, namun di titik ini aku tersenyum, karena seumur hidupmu aku yakin kau akan selalu mencintaiku..

pasir itu menari-nari disapu air yang perkasa, aku masih tersenyum sampai dua malaikat kecil di belakangku memanggil "mama..." lalu aku tersadar dan memeluk mereka diantara lembayung turun matahari jingga.

jejak di pasir serta kenangan akanmu..
senyum yang kau wariskan kepada dua malaikat
foto : kotikumpun.blogspot.com

Menunggu diantara mati


ah.. bosan rasanya menunggu seperti ini, ingin rasanya bertengkar dengan siapapun, ingin rasanya aku menjitak presiden kita yang bodoh, ingin rasa membakar atribut kemapanan, atau berjalan dengan senjata api dan menodong setiap orang tolol yang merusak keindahan kota, entah apa hubungannya denganku?  memang kalau sudah urusan menunggu rasanya sangat tersiksa, aku ingin sekali bertanya "apa perlu kita menunggu?", "haruskah selama ini?" ini semua lebih seperti sebuah perjudian apalagi kalau yang ditunggu tidak ada kabar. ayolah kawan aku ingin segera melepas lelah ini, membagi secuil kisah hidup yang agak membosankan padamu disana. sudah berapa bulan ini hidupku dicecapi ragam rasa, ya memang hidup harus seperti ini tetapi rasa yang fluktuatif ini justru terlampau dinamis bergerak, setelah sangat senang lalu aku sangat sedih, dan seterusnya -seperti roda kendaraan yang terlalu cepat dipaksakan berlari- malas rasanya merasakan hal ini karena aku merasa seperti ada kekuatan besar yang mempermainkan aku.

senin pagi, ketika orang-orang malas terlelap di dalam tidur, aku terjaga tetapi aku tidak mengerti untuk apa. katanya pagi ini aku harus kembali menunggu, kepastian yang dipastkan atau kembali penantian yang dinantikan.. ah percumalah bagiku untuk merangkai pertanyaan-pertanyaan lagi, karena hanya akan menambah daftar pertanyaanku yang tak pernah terjawab. burung-buru besi, di atas rumah sakit sudah mulai lalu lalang tanda udara tak pernah istirahat, sekejap libasannya membuat jaringan sinyal televisi menjadi kabur. biasanya pagi seperti ini mataku masih sembab menahan kantuk, tapi pagi ini kenapa hanya kesal?

beberapa kabar yang datang dari beberapa orang sangat berlainan. dokter katakan aku akan mati malam ini juga, sedang suster mengatakan aku masih memiliki waktu satu minggu, sedang aminah istriku mengatakan aku tidak akan mati, aku akan selalu ada di hatinya, berulang kali ia katakan itu di daun telingaku. apa-apaan ini semua? sedang yang kurasa tubuhku seperti lelah sekali, hanya pikiranku yang kembali berontak kejang, seadainya dokter benar aku akan mati malam ini, aku rasa lebih baik aku bunuh diri agar dokter tak pernah benar, pun hal yg sama akan kulakukan pada pernyataan suster dan istriku. aku tak mau seorang benar dalam meprediksi hidup dan matiku.

Tuhan, pagi ini aku sangat lelah, mari kita bertemu sejenak untuk berbincang tentang segala sesuatu. aku sudah lelah dengan jutaan draf pertanyaan yang nyatanya tak ada yang bisa menjawab selain Engkau. maka kasur ini sudah ku rapikan dan ku tata dengan cantik untuk menyambut kedatanganMu, Engkau tahu bukan bahwa aku tak akan lama lagi hidup. aku sudah bosan menunggu mati setelah terakhir kali jantungku bersikeras untuk tetap berdetak, entah aku sangat bosan. ingin rasanya merasakan hidup pada kadar dan situasi yang berbeda, entah sebagai jin, iblis atau malaikat penghuni surga. tuhan mari silahkan kau menyambangi tempatku berbaring ini, kita hanya akan bicara empat mata, tentang segala rahasia.

teman-temanku sudah terlebih dahulu menghiasi tembok dunia lain dengan warnanya masing-masing, ada yang sesekali berkunjung dalam mimpiku dia memintaku menyusulnya, katanya Engkau menjamunya dengan aneka hidangan? Tuhan, entah apa yan harus kutulis menjadi sebuah permohonan kepadamu, ku tahu hampir setiap hari di rumah istri dan anak-anakku pun  lelah menangis, terlihat dari kantung mata yang membesar ketika mencoba menjadi tegar di hadapanku. aku sudah bosan menunggu mati, lelah, teramat jengah dan berbagai rasa yang mengejewantah dalam definisi kata-kata ini.... mari kita berbincang!!

MARI KITA BERBINCANG.... sudah tidak ada waktu lagi, cepatlah Tuhan, atau jika tidak setan akan mengepungku dan mengambil jiwaku. cepat-cepat selamatkan aku. ku lihat tubuhku kejang dan dokter sudah menyiapkan sunti mati untuk sel-sel yang masih hidup di dalamnya, di luar ruang kaca rumah sakit anak dan istriku menjerit histeri tandak takluk akan kuasaMu ya tuhan.. sedang iblis sudah melakukan ritual menarinya.. tolong ya Tuhan, selamatkan aku.. aku sudah bosan berkawan dengan segala kehampaan, setan dan jin dengan genderang yang menghasut pada rona kehidupan selama ini.. MARI KITA BERBINCANG!!!!!

dalam hitungan jam mungkin semua akan berubah, aku akan menjadi seonggok mayat dan dunia akan kembali berjalan. untuk sekadar menimbang, aku akan kabarkan bahagia kepada mereka yang percaya, aku telah berbincang dengan Tuhan, dalam pertemuan sempit diantara hidup dan mati. mungkin juga sosok itu bukanlah Tuhan melainkan setan, tapi ada kata2 Tuhan atau setan yang kuingat..

ia hanya mengatakan "mari kita BERPESTA!!" :)
 
foto : Dokumen pribadi

Sisi lain Jakarta



tak ada yang pernah berpikir bahwasanya kota Jakarta bukan sesempit persoalan-persoalan itu-itu saja yang mudah ditemui di surat kabar, seperti banjir, macet, kriminalitas dan pengangguran, tetapi masih ada kemurungan lain. tulisan ini berawal dari kekesalan saya atas pasukan oranye pendukung Persija, sore itu tim kebanggaan mereka berhasil mengalahkan musuh bebuyutan Persib. tumpah ruahlah mereka di jalan dari mulai jalan Pintu Gelora IX Senayan sampai Hotel Mulia dan dari  jalan Pintu Gelora I sampai jalan Sudirman, seakan komplek Stadion Utama Gelora Bung Karno itu dikepung oleh ribuan pendukung Persija -banyak juga yang datang dari pinggiran Jakarta seperti Bekasi,Tangerang dan Depok- dan memang di kala seperti ini superioritas suporter sangat tinggi sedikit saja menyulut api provokasi ya sudah bisa gawat jadinya.

kebetulan sore itu saya sudah punya janji dengan seorang teman ingin menonton pertunjukan monolog, sepeda motor yang sebelumnya saya kebut melaju tanpa hambatan melewati jalan Iskandar Muda lalu jalan Pakubowono sampai jalan Hang Lekir tiba-tiba mandek dan terjebak macet di jalan Asia-Afrika Senayan, "ada apa gerangan"  sayup-sayup terdengar suara dari kejauhan terdengar hiruk pikuk yang lebih layak disebut sebagai teriakan daripada nyanyian. semua kendaraan berhenti tak jalan satu centimeter pun, statis kaku memadati sampai kebahu jalan yang di jajah pengendara motor. akhirnya beberapa polisi mengurai masa pendukung Persija itu menjauh dari jalan dengan cara yang menurut saya agak sopan -terkhusus bagi polisi- akhirnya berbagai kendaraan bisa berjalan perlahan seperti canggung melewati kerumunan oranye -warna yang diadopsi dari kolonialis belanda- takut pola tingkah mereka bisa merusak kendaraan kesayangan kami. tapi hanya beberapa puluh meter pendukung Persija kembali merangsek ke jalan, alhasil macet kembali melanda. di samping kiri sepeda motor saya ada sebuah mobil bagus entah mereknya apa mungkin ford atau apa, lalu di samping kanan saya ada angkot biru yang di hiasi dengan atribut Persija yang sedang parkir dengan beberapa anak muda duduk di atasnya memukuli senar drum.

saya sebelumnya tidak tau jika mobil di samping kanan saya ini dikendarai seorang wanita cantik sampai pendukung Persija yang berusia tanggung itu berteriak "jablay.. jablay" sambil bertingkah seolah -maaf- sedang senggama menggerakkan daerah kemaluaanya maju mundur. sebenarnya saya jengkel dengan mereka, kalau saja jumlahnya masih itungan jari mungkin bocah tanggung ini tidak berani bertindak seperti itu. kulihat wanita yang mengendarai mobil itu tidak menghiraukan dan terlihat begitu nyaman dalam mobilnya dengan alunan lagu dan kaca yang tertutup rapat. saya mengerti apa yang sedang ia pikir, mungkin sama seperti saya juga yang berpikir kapan kendaraan saya bisa melalui jalan ini. tepat di depan Hotel Atlet Century Park gerombolan pendukung persija yang berjalan kaki dari pintu satu senayan datang. "persib k***l,,, persib A****g" begitu berulang-uang mereka berteriak-teriak terhadap pengguna jalan yang terjebak macet parah. lalu entah angin apa ada teriakan yang bilang "ayo sweeping suporter persib, pukulin,,bunuh.." akhirnya mereka memeriksa kami pengguna jalan layaknya polisi yang memilik hak.

tambah macetlah jalan Pintu Gelora I, padat sekali, puluhan anak berusia tanggung itu saya jamin sebenarnya tak tau apa yang mereka lakukan. tiba-tiba saja mereka menjadi berkuasa, di belakang saya para pengendara atau boncenger wanita sudah turun bergegas pergi ke arah Fx dan mencari suaka perlindungan sekuriti disana dan meninggalkan kendaraan mereka di jalan. lalu semakin menjadilah ulah pendukung Persija ini mereka mengintrogasi beberapa orang. "Viking??", ditujukan ke semua orang termasuk saya. pemuda kurus dengan kulit hitam dan jerawat di mukanya bertanya pada saya "Viking?", saya jawab "bukan", "ni motor lu warna biru", saya diam pasrah motor saya di cuil-cuil oleh orang itu, setelah itu saya terselamatkan entah oleh apa, tiba-tiba kerumunan orang beridentitas oranye itu pergi ke jalan Sudirman -mungkin mereka mengejar bus untuk pulang- maka terurailah kerumunan di jalan dan motor pun bisa menembus jalan Pintu Gelora I.

sejujurnya hati saya kesal bukan kepalang, soalnya karena tingkah mereka menyandera saya dalam kemacetan dan sweeping bodoh hampir selama 30 menit di bilangan Senayan, rencana menonton monolog pun batal karena teman saya tak kunjung membalas pesan kiriman saya ke telepon selulernya. sisi lain Jakarta, sisi kemurungan lain yang justru datang dari segelintir orang yang mengaku yang Mpunya Jakarta, ironis sekali laku mereka. mengingat kejadian itu saya seperti disadarkan dengan pertanyaan "sebenarnya siapa yang salah dalam hal ini?" pendidikan atau lingkungan? saya tak berani berasumsi toh kampus-yang katanya tempat berkumpulnya intelektual- saya kuliah saja masih ada perkumpulan suporter Persija walau hanya bilangan hitung puluhan.

balik lagi pertanyaan saya lempar kepada anda, diantara persepsi tentang kemapanan berpikir warga Jakarta kita semua menemui duri dalam daging, identitas warga Jakarta yang mencemari ketenangan kita semua hanya demi sebuah klub sepakbola. lalu pertanyaan dilontarkan kepada siapa ketika kita melihat sesama pendukung Persija itu saling bernafsu membunuh satu sama lain, terlebih di dalamnya begitu banyak melibatkan kaum muda belia yang belum sama sekali mengerti tentang keberadaannya di stadion dan menyanyikan yel yel yang hampir sama terdengar dari puluhan stadion di Indonesia itu.

mari kita renungi sisi lain kemurungan Jakarta dan bertindak atas nama tanggung jawab intelektual kita.





 
foto: google key search "persija"